Berapa tahun sekali beli laptop? Baru dipakai 2 atau 3 tahun sudah beli lagi karena rusak? Atau terasa tertinggal teknologinya?Jika tidak ingin terlalu sering, ini tipsnya.
Secara umum saya bagi tiga:
- Build quality.
- Kemudahan replace/upgrade.
- Masa guna teknologinya.
Kita bahas satu-satu:
Pertama, buld quality. Pilih yang bagus. Biasanya ada di kelas bisnis/corporate. Nampak kokoh, bahannya juga lebih solid. Contoh: Dell Latitude, HP Elitebook, ThinkPad. Laptop ini awet, tidak mudah rusak. Engselnya tidak mudah lepas, pecah. Laptop kena guncangan atau jatuh, juga tidak mudah rusak.
Kedua, kemudahan replace hardware/upgrade. Laptop kelas consumer memang menarik. Biasanya lebih tipis dan ringan. Tapi ada konsekuensi. Untuk mengganti SSD, RAM, keyboard, tidak jarang lebih sulit. Sering juga RAM sudah soldered. Alias tidak ada opsi upgrade. Jika tidak ada opsi upgrade, maka setelah dipakai 2 atau 3 tahun, mungkin kita akan merasa “sesak”. Dulu saat beli, mungkin RAM 8GB terasa mencukupi. Sekarang, serasa “tercekik”. SSD juga demikian. Mungkin dulu SSD 256GB terasa memadai. Sekarang, sudah hampir penuh. Jika RAM soldered atau sulit diupgrade, ya kita terpaksa beli laptop baru lagi yang kapasitas SSD lebih besar, RAM lebih besar.
Ketiga, masa guna teknologinya. Salah satu hardware laptop yang umumnya tidak bisa diupgrade adalah CPU. Maka, pikirkan baik-baik sebelum membeli laptop. Perkirakan apakah CPU akan tetap relevan beberapa tahun mendatang. Sebagai saran, jangan beli CPU entry level.
Tentu saja, ini adalah gambaran umum. Ada banyak pengecualian tergantung merek, seri, dan generasi laptop. Ada laptop kelas consumer yang mudah diupgrade/ganti, dan ada juga laptop kelas bisnis yang tidak mudah diupgrade/ganti.
Namun, secara umum, tiga hal ini yang menurut saya perlu diperhatikan jika ingin laptop dipakai dalam jangka panjang. Jadi, jangan ditelan mentah-mentah tulisan saya di atas. Hanya generalisasi untuk memudahkan. Praktiknya, Anda tetap harus memperhatikan merek, seri, dan generasi laptop yang akan Anda beli secara spesifik. (Farid Ma’ruf)